Diagnose dan remediasi kesulitan belajar 1: Pendahuluan

Februari 10, 2010

Leo Sutrisno

Dalam beberapa pertemuan dengan sejumlah guru yang sedang mengikuti kegiatan PLPG 2008 yang lalu, diperoleh sejumlah saran tentang tulisan yang disajikan secara berseri di Pontianak Post. Salah satu di antaranya menyarankan agar disajikan tulisan tentang kegiatan remedial. Karena, sejak  diterapkannya kurikulum baru yang menggunakan pendekatan belajar tuntas kegiatan remedial harus dilaksanakan oleh setiap guru.

Pendekatan belajar tuntas menggunakan prinsip: ’Jika materi A merupakan prasyarat untuk mempelajari materi B maka hanya siswa yang telah menguasai materi A secara tuntas baru dibolehkan mempelajari materi B’.  Kriteria yang digunakan oleh para guru untuk menetapkan ketuntasan belajar siswa saat ini Standar Kompetensi Minimum, yang dinyatakan dilai bentuk skor (nilai). Mereka yang memeliki nilai kurang dari (nilai) Standar Kompetensi Minimum itu diwajibkan mengikuti kegiatan remedial, yaitu dengan cara mengikuti tes ulang beberapa kali hingga mencapai nilai stadar kopmpetensi minimum  tersebut. Dengan perkataan lain, kegiatan remedial seperti ini bertujuan unutk meningkatkan nilai agar mencapai nilai standar.

Dalam tulisan berseri ke depan dengan tema diagnose dan remediasi kesulitan belajar bukan arti seperti itu. Tetapi, hal itu berupa kegiatan yang bertujuan membantu para siswa dalam mengatasi kesulitan belajar yang mereka alami dengan fokus mengubah konsepsi siswa agar menjadi konsisten dengan konsepsi para ilmuwan.

Dipahami, dalam proses pembelajaran, para siswa aktif mengkonstruksi pengetahuannya sendiri (aktif menyusun konsepsinya sendiri) melalui interaksi dengan para guru dan teman-temannya dengan cara membuat hubungan (link). Hasilnya berupa konsepsinya  (Baca: pengetahuannya) sendiri tentang materi yang sedang dipelajari. Sudah barang tentu ada konsepsi mereka yang sudah konsisten dengan konsepsinya para inuwan, tetapi juga ada yang berbeda dengan konsepsi ilmuwan. Konsepsi siswa yang berbeda dari konsepsi para ilmuwan disebut miskonsepsi.

Fokus dari remeiasi yang ada dalam seri tulisan ini adalah memperbaiki miskonsepsi yang dimiliki para siswa agar menjadi konsisten dengan konsepsi ilmuwan. Sedangkan diagnosenya merupakan kegiatan menggali miskonsepsi para siswa. Kegiatan diagnose ini sering dilakukan dengan cara mengadakan tes diagnostik. Gambar 1 menyajikan alur kegiatan itu. Diawali dengan melakukan asesmen kepada siswa setelah selesai mengikuti proses pembelajaran untuk menentukan para iswa yang telah tuntas dan yang belum. Mereka yang belum tuntas diberi tes diagnostik unutk menemukan miskonsepsi mereka. Berdasarkan miskonsepsi yang ditemukan disusun kegiatan remediasi unutk ’membongkar’ miskonsepsi mereka dan bersedia menerima konsepsi ilmuwan.

Mencermati diagram alur yang tersaji pada Gambar 1 itu, terlihat bahwa kegiatan remediasi tidak serta merta menghasilkan nilai siswa sedemikian ruoa sehingga mencapai standar kompetensi minimum. Kegiatan remediasi mendobrak miskonsepsi. Siharapkan setelah tidak mis lagi, siswa yang bersangkutan tidak lagi mengalami kesulitan dalam mengikuti asesmen hasil belajar. Dengan begitu, diharapkan hasil asesmennya menunjukkan bahwa siswa yang bersangkutan telah memenuhi standar kompetensi minimum.

Iklan

Diagnostik dan Remediasi Kesulitan Belajar Fisika

Januari 25, 2010

Oleh: Leo Sutrisno

Diagnose dan remediasi kesulitan belajar fisika 10: Hukum Newton III

Leo Sutrisno

Jika suatu benda berinteraksi dengan suatu benda lain maka dihasilkan suatu gaya yang berupa dorongan atau tarikan pada pada benda-benda itu. Interaksi itu dapat berupa persentuhan langsung (saling menempel) ada juga yang berupa kontak-jarak jauh (misalnya: gaya gravitasi Bumi, gaya magnet)
Newton menyusun sebuah hukum yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan interaksi ini. Dikatakan bahwa jika sebuah benda A berinteraksi dengan benda B, mereka saling mengerjakan gaya antara yang satu dengan yang lain. Benda A mengerjakan gaya pada benda B dan sebaliknya benda B mengerjakan gaya pada benda A. Kedua gaya ini disebut gaya aksi dan reaksi. Benda memberikan gaya aksi pada B dan benda B memberikan gaya reaksi pada A.

Hubungan antara gaya aksi dan reaksi ini dinyatakan secara formal oleh Issac Newton dalam bentuk Hukum Newton III tentang gerak. Bentuk formalnya adalah sebagai berikut: Setiap aksi akan mendapat reaksi yang sama besar dan berlawanan arah. Pernyataan ini berarti bahwa pada setiap interaksi terdapat sepasang gaya yang bekerja pada kedua benda yang sedang berinteraksi. Besar gaya yang dikerjakan oleh benda pertama pada benda kedua sama besar dengan gaya yang dikerjakan oleh benda kedua pada benda pertama. Namun arahnya saling berlawanan. Dikatakan bahwa gaya selalu muncul secara berpasangan.

Misalnya, saat ini kita sedang duduk di kursi sambil membaca tulisan ini. Kita mengerjakan gaya pada kursi dengan arah ke bawah (ke arah kursi) sebesar gaya berat kita. Demikian juga, kursi memberikan gaya ke atas yang menahan kita yang disebut gaya normal. Besar gaya berat tubuh kita sama dengan besar gaya normal yang dikerjakan kursi pada tubuh kita.

Banyak siswa yang memiliki miskonsepsi tentang Hukum Newton III ini. Salah satu di antaranya, benda yang memiliki massa yang lebih besar memberikan gaya yang lebih besar.

a. Tes diagnostik

Sebuah kotak berada di atas meja. Karena beratnya, kotak mengerjakan sebuah gaya aksi pada meja sebesar gaya berat kotak. Sebagai reaksi, meja mengerjakan gaya pada kotak untuk menahan kotak itu. Mana yang betul?
a. Gaya yang dikerjakan kotak pada meja lebih besar dari gaya yang dikerjakan meja pada kotak.
b. Gaya yang dikerjakan kotak pada meja lebih kecil dari gaya yang dikerjakan meja pada kotak.
c. Gaya yang dikerjakan kotak pada meja sama besar dengan gaya yang dikerjakan meja pada kotak.

Siswa yang memiliki miskonsepsi akan memilih jawaban b, yaitu gaya yang dikerjakan kotak pada meja lebih kecil dari gaya yang dikerjakan meja pada kotak. Jika ditanyakan mengapa? Jawaban yang muncul adalah meja lebih besar dari pada kotak. Karena itu meja mengerjakan gaya yang lebih besar. Mereka menggunakan prinsip semakin besar massa benda semakin besar gaya yang diberikan.

b. Remediasi

Amati kotak. Pada kotak itu terdapat sepasang gaya, yaitu: gaya berat dan gaya meja yang menahan kotak. Gaya berat kotak merupakan akibat dari gaya tarik bumi. Arahnya ke bawah. Gaya meja yang menahan kotak merupakan gaya reaksi meja karena ada kotak di atasnya. Arah gaya reaksi ke atas.

Jika betul pilihan b, meja memberikan gaya yang lebih besar pada kotak daripada gaya berat kotak maka pada kotak masih memiliki gaya netto ke atas. Akibatnya, kotak mempunyai percepatan ke atas. Karena mempunyai percepatan berarti kotak bergerak. Kotak bergerak ke atas meninggalkan meja. Benarkah?! Tidak! Kotak tetap diam di atas meja.
Jadi, tidak mungkin jika gaya yang diberikan meja lebih besar dari pada gaya berat kotak.

Apakah lebih kecil?
Juga tdak mungkin! Sebab, jika lebih kecil maka kotak akan bergerak ke bawah menerobos permukaan meja. Maka, yang betul adalah gaya yang dikerjakan meja pada kotak sama besar dengan gaya yang dikerjakan kotak pada meja.
Setuju?!

Bagaimana halnya dengan motor Anda? Mengapa dapat bergerak? Jengan di jawab karena mesinnya hidup. Coba bayangkan mesin motor Anda hidup, dan ditempatkan di atas lantai yang sangat licin. Misalnya, lantai keramik yang disiram olie. Tambah lagi, ban luarnya sudah halus, batikannya sudah tidak ada. Apakah motor itu melaju seperti di atas jalan aspal? Jadi, mesin yang hidup tidak cukup menjadi syarat motor dapat bergerak. Silahkan pikir, apa yang terjadi pada persentuhan antara ban luar dan permukaan jalan?