GURU GO BLOG

Maret 10, 2010


Judul di atas jika hanya dilafalkan tanpa melihat tulisan tentu akan membuat guru marah. Bagaimana tidak, guru yang berilmu direndahkan dengan ucapan tersebut. Tulisan ini salah satu upaya memotivasi guru untuk meningkatkan profesionalitasnya.
Jorn Barger menggunakan istilah blog pertama kali pada bulan Desember 1997 untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu di-update terus-menerus dan berisi link-link ke website lain disertai dengan komentar-komentar mereka. Blog dapat digunakan untuk mendokumentasikan catatan berkala yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yang dapat diakses melalui web dan dapat dikelola menggunakan (basis) web
Dewasa ini guru sulit naik pangkat dari golongan IVa ke IVb disebabkan karena lemahnya kemampuan guru membuat karya tulis ilmiah. Baca entri selengkapnya »


Tips bagi Guru dalam Memanfaatkan Media Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Pembelajaran

Januari 25, 2010

Penulis: Sudirman Siahaan

Guru dikatakan sebagai seseorang yang mengelola kegiatan pembelajaran bagi para peserta didiknya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas menjadi wewenang dan tanggungjawab guru. Sumber-sumber belajar apa saja yang akan dimanfaatkan di dalam kelas adalah sepenuhnya berada di tangan guru. Metode pembelajaran yang bagaimana yang akan dterapkan di dalam kelas untuk menyajikan materi pelajaran tertentu adalah juga menjadi tanggungjawab guru. Sekalipun sudah ada panduan tentang metode pembelajaran yang ditetapkan untuk digunakan guru dalam menyajikan materi pelajaran, namun tetap saja guru memiliki kewenangan untuk memilih dan menetapkan metode pembelajaran yang akan digunakannya di dalam kelas.

Pengadaan media TIK untuk kegiatan pembelajaran bisa saja berasal dari sekolah itu sendiri atau dari pihak lain. Pada dasarnya tidak menjadi masalah dari manapun asalnya media TIK yang sampai di sekolah. Yang justru lebih penting lagi adalah bagaimana menyiasati agar media TIK yang telah tersedia di sekolah dapat dioptimalkan pemanfaatannya bagi kepentingan pembelajaran peserta didik. Beberapa contoh media TIK yang mulai banyak tersedia di pasaran adalah CD/kaset audio, VCD, dan internet. Sehubungan dengan semakin maraknya ketersediaan media TIK untuk kegiatan pembelajaran, baik di pasaran, yang diadakan sekolah sendiri maupun yang diterima sekolah dari berbagai pihak, maka sebelum memanfaatkannya di dalam kelas, beberapa tips berikut ini perlu kiranya mendapatkan perhatian:

1. Mempelajari materi pelajaran yang dikemas di dalam media TIK

Dengan kemajuan TIK dewasa ini, para guru dapat mencatat daftar websites yang memang memuat materi pelajaran yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan dibahas di dalam kelas. Tidak hanya mencatat website-nya tetapi juga materi pelajaran yang dikandung di dalamnya. Penugasan peserta didik mengakses websites tertentu hendaknya dilakukan guru secara terencana. Demikian juga dengan alokasi waktu bagi peserta didik untuk mengerjakan tugas yang diberikan.

Manakala di sekolah telah tersedia perangkat komputer dan akses ke internet, maka guru dapat menugaskan para peserta didiknya untuk mengunjungi websites yang dimaksudkan. Tidak hanya sekedar mengunjungi websites tertentu saja, tetapi para peserta didik juga ditugaskan untuk mendiskusikan materi pelajaran yang dikemas di dalamnya.

Mengakses websites tertentu yang ditugaskan guru dapat saja dilakukan peserta didik di luar jam pelajaran sekolah atau selama peserta didik masih berada di sekolah. Apabila selama berada di lingkungan sekolah, peserta didik dapat saja mengakses websites yang ditugaskan guru di lab komputer. Peserta didik akan merasa lebih leluasa melaksanakan tugas yang diberikan guru apabila ada jam pelajaran kosong. Atau, setidak-tidaknya ada satu jam pelajaran yang diperuntukkan guru kepada peserta didik untuk mengakses websites dan mendiskusikan materinya. Tentunya akan lebih baik lagi apabila peserta didik melaksanakan tugas di luar jam pelajaran sekolah.

2. Merencanakan waktu pemanfaatan media TIK

Ada sebagian guru yang membawa media TIK atau media pembelajaran ke dalam kelas dan kemudian memanfaatkannya ketika dirinya merasa memerlukannya. Artinya, pemanfaatan media pembelajaran dilakukan sesuai dengan keinginannya. Bahkan, lebih ekstrim lagi, ada guru yang menugaskan para peserta didiknya untuk memanfaatkan media pembelajaran karena dirinya berhalangan hadir mengajar di kelas. Media pembelajaran mana yang akan dimanfaatkan peserta didik sewaktu guru berhalangan mengajar tidak ditentukan alias diserahkan sepenuhnya kepada peserta didik. Demikian juga dengan petunjuk atau pedoman yang perlu diperhatikan atau dilaksanakan oleh peserta didik selama memanfaatkan media pembelajaran.

Berdasarkan keadaan tersebut di atas, dapatlah dikatakan secara singkat bahwa pada dasarnya guru tidak melakukan perencanaan tentang pemanfaatan media yang tersedia di sekolahnya. Padahal pemanfaatan media pembelajaran yang tersedia di sekolah tentunya merupakan sesuatu yang seyogianya dilakukan guru. Masih relatif akan lebih terarah apabila media pembelajaran yang akan dimanfaatkan peserta didik itu telah disiapkan dan kemudian dititipkan kepada guru piket atau Kepala Sekolah. Pendampingan peserta didik dalam pemanfaatan media di sini tentu saja dapat dilakukan oleh guru piket, tenaga Tata Usaha atau Kepala Sekolah.

Bagaimana seandainya guru tidak berhalangan hadir mengajar di kelas? Apakah guru juga masih akan memanfaatkan media dalam kegiatan pembelajaran sekali pun seandainya dirinya tidak berhalangan hadir mengajar di kelas? Hendaknya pemanfaatan media dalam kegiatan pembelajaran dilakukan secara terencana dan terintegrasi dalam jadwal pelajaran sekolah.

Sebagai contoh adalah guru yang akan memanfaatkan media CD atau VCD dalam kegiatan pembelajaran. Setelah mempelajari materi yang dikandung di dalam CD/VCD, maka guru tahu persis kapan materi tersebut akan dibahas bersama peserta didiknya. Dalam kaitan ini, guru tentunya dituntut untuk membuat perencanaan pemanfaatannya. Berbagai topik program media yang terdapat di dalam media CD/VCD telah terlebih dahulu dipelajari guru sehingga dapat diintegrasikan dengan jadwal pelajaran sekolah, baik mengenai harinya maupun waktunya. Dengan adanya perencanaan ini, maka peserta didik dapat dikondisikan agar peserta didik mempersiapkan dirinya dan fasilitas yang mereka perlukan sebelum kegiatan pemanfaatan media dilakukan. Demikian juga halnya dengan kesiapan guru itu sendiri, baik dalam mempelajari materi pelajaran yang dikemas di dalam media CD atau VCD maupun dalam mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan guru.

3. Mengkomunikasikan rencana pemanfaatan media TIK kepada peserta didik

Setidak-tidaknya ada 2 alasan mengapa dinilai penting mengkomunikasikan rencana pemanfaatan media TIK kepada peserta didik adalah agar peserta didik dapat mempersiapkan (a) dirinya untuk mempelajari materi pelajaran yang akan disajikan melalui media TIK dan (b) fasilitas yang diperlukan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran melalui media TIK. Dari sisi guru sendiri, ada tuntutan agar guru lebih (a) mempersiapkan dirinya mengenai materi pelajaran yang akan dibahas, (b) mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan (dalam kondisi baik) agar tidak menjadi hambatan sewaktu pemanfaatan media TIK dilaksanakan, dan (c) mempersiapkan ruangan yang akan menjadi tempat pemanfaatan media TIK.

Apabila memungkinkan, rencana pemanfaatan media TIK dalam kegiatan pembelajaran dapat ditempelkan di pintu masuk ruang kelas atau di ruang lain yang telah diperuntukkan sebagai tempat pemanfaatan media TIK. Atau bahkan sehari sebelum pemanfaatan media TIK, guru kembali mengingatkan peserta didiknya mengenai kegiatan pembelajaran esok yang memanfaatkan media TIK. Akan semakin lebih baik lagi guru juga menjelaskan topik dan pokok-pokok materi pelajaran yang akan dibahas serta kompetensi yang perlu dikuasai peserta didik.

4. Mengkomunikasikan rencana pemanfaatan media TIK kepada pengelola fasilitas TIK sekolah

Tidak adanya komunikasi tentang rencana pemanfaatan media TIK kepada pengelola fasilitas TIK dapat mengakibatkan terganggunya pelaksanaan pemanfaatan media TIK atau lebih fatal lagi adalah tertundanya rencana pelaksanaan pemanfaatan media TIK untuk kepentingan pembelajaran. Tentunya akan berbeda kondisinya apabila sang guru adalah juga pengelola fasilitas TIK. Komunikasi dengan pengelola fasilitas TIK ini akan menuntut aktivitas pengelola untuk memeriksa berbagai fasilitas TIK yang dibutuhkan guru sehingga pada saat pelaksanaan pemanfaatan, semua fasilitas TIK yang dibutuhkan guru dalam keadaan siap dan baik.


10 Info Penting Untuk Guru

Januari 24, 2010


Untuk mempermudah dan membantu perkembangan hubungan yang positif antara guru dan anak anda, sebaiknya beritahu guru mengenai kebisaan atau kebutuhan khusus si kecil. Info-info yang terlihat sepele ini, sebetulnya amat bermanfaat, baik untuk pihak sekolah, murid, dan orang tua.

1.Mata pelajaran yang disukai
Beritahu mata pelajaran yang paling dikuasai dan disukai anak sehingga guru dapat lebih mendorong anak untuk mencapai prestasi yang maksimal. Anak cenderung suka melakukan apa yang disenanginya termasuk mata pelajaran yang disenanginya.

2.Mata pelajaran yang sulit
Sampaikan pula mata pelajaran yang dirasa sulit bagi anak. Entah itu Matematika atau Bahasa Inggris. Dengan demikian guru tahu dan bisa memberi perhatian khusus padanya dan mencoba menolong mengatasinya. Analoginya jika ada bagian mobil yang rusak maka kita lebih memperhatikan bagian tersebut, perlakuan yang lebih kita lakukan pada bagian yang rusak agar tidak mengurangi peforma mobil.

3.Alergi
Sangatlah penting untuk memberitahu guru jika anak Anda menderita alergi terhadap makanan tertentu atau sesuatu dan sampai sejauh mana alergi itu mengganggu anak Kesehatan penting untuk tumbuh kembang anak baik mental maupun kemampuan berpikirnya.

4.Kesehatan
Informasikan kepada guru jika anak memiliki masalah kesehatan yang meminta perhatian khusus. Misalnya, anak menderita asma, epilepsi, diabet, atau anak harus minum obat tertentu pada jam-jam tertentu pula.

5.Kegiatan luar sekolah
Terangkan semua aktivitas yang dilakukan anak di luar jam sekolah sehingga guru akan mengerti kegiatan anak sehari-harinya. Ada anak yang membantu orangtuanya mencari nafkah, ini akan menyita waktu belajar anak. Tindakan bijaksana perlu dilakukan guru untuk menghadapi kejadian ini.

6.Agama
Jika kebetulan keluarga Anda menganut suatu agama atau kepercayaan yang mengharuskan anak tidak masuk sekolah untuk mengikuti upacara/ritual tertentu atau berpantang tidak memakan sesuatu makanan, jangan lupa untuk menginformasikan semua ini kepada guru.

7.Masalah keluarga
Bila di dalam keluarga misalnya mempunyai adik baru, kematian salah satu anggota keluarga, perceraian antara orang tua, sebaiknya juga disampaikan pada guru. Masalah-masalah seperti itu umumnya mempengaruhi perilaku, perasaan, dan emosi anak.

8.Sesuatu yang sensitif
Beritahu pada guru jika anak Anda sangat perasa. Misalnya kepada bentuk badannya, berat badannya, penampilannya, bicara gagap, sifatnya amat pemalu, atau takut/trauma terhadap sesuatu (semisal trauma terhadap air sehingga ia kesulitan mengikuti mata pelajaran renang). Dengan demikian guru dapat berhati-hati dan menghindari terjadinya masalah. Perkembangan anak cendrung labil, ejekan teman atau pernyataan guru yang menyinggung murid akan berpengaruh buruk pada anak saat mengikuti proses belajar di kelas.

9.Hobi
Kalau anak anda sangat menyenangi dan dapat bermain musik, jago basket, mungkin guru akan dapat memasukkannya ke dalam salah satu kegiatan di sekolah. Refreshing dan kegiatan yang bermanfaat di luar jam sekolah perlu dilakukan untuk mengembangkan minat dan bakat anak.

10. Tingkah laku
Informasikan semua sifat/tingkah laku, kebiasaan anak. Misalnya, anak cenderung jadi sangat menjengkelkan di sore hari, cepat merasa frustasi dengan suatu proyek yang dikerjakannya. Jelaskan pula apa usaha-usaha yang telah Anda lakukan untuk mengatasi masalah ini.

Sumber artikel dari e-dukasi net.com


Motivasi Belajar Siswa

Januari 21, 2010

Waktu liburan setelah bermain futsal, teman saya yang berprofesi sebagai guru bercerita tentang apa yang dialaminya ketika mengajar. Pada saat Ia mengajar banyak siswa yang “enggan” mengikuti proses pembelajaran. Masalah yang dihadapi oleh teman saya ini mungkin juga dialami oleh banyak guru yang lain. Berbagai upaya telah dilakukan antara lain bahan ajar telah dibuat, modul sudah dibagikan, strategi pembelajaran telah dirancang dan diterapkan, tetapi motivasi belajar siswa tetap saja rendah. Apa yang keliru? Bagaimana mengatasi hal ini? Pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan.

Mohon komentarnya untuk mengatasi hal ini.
🙂


Guru Bagaikan Lilin yang Menyala

Januari 2, 2010

Guru merupakan pekerjaan yang mulia, pengabdian yang tak kenal pamrih melahirkan manusia yang terdidik, kritis, kompeten, bermoral dan beretika. Banyak orang yang sukses berkat “polesan” guru. Guru dikatakan sukses apabila sukses  mengantarkan anak didiknya sukses di dunia maupun akhirat. Ibarat lilin yang terus menyala guru menerangi lingkungannya dengan cahaya pengabdian. Walaupun terbakar dan meleleh nyala lilin tetap menerangi, analogi yang tepat menggambarkan pengorbanan dan perjuangan guru untuk mendidik siswanya agar menjadi orang yang sukses kelak.

Lilin merupakan sebuh benda kecil yang mudah patah apabila terkena goresan atau pukulan. Namun,kilaunya sinar yang dipancarkan menerangi ketika kegelapan hadir disekitar kita. Itulah guru kita, guru bagaikan lilin yang menerangi kita dari kehidupan yang gelap menuju kehidupan yang lebih terang. Sinar yang terus mereka pancarkan kekal sampai mereka tua dan tak berdaya.

Guru yang menjadi motivator, pendorong semangat peserta didiknya. Guru yang rela hidup dakam kekurangan tetapi tetap mengabdi demi kemajuan anak didiknya.Guru yang selalu berinovasi untuk membuat siswa lebih tertarik dan giat belajar. Berikut kisah perjuangan dan pengorbanan guru yang patut diteladani dalam melaksanakan tugas guru yang mulia:

1. Tjandra Heru Awan

Kegigihan dan keuletan di balik kebersahajaan sangat melekat di setiap sikap dan prilaku Tjandra Heru Awan. Dengan bekal ketekunan dan kegigihan, guru fisika di SMAN 10 Malang ini meraih beragam prestasi di tingkat nasional. Berbagai prestasi itu diukir melalui perjalanan hidupnya yang panjang. Sikap bersahaja itu pun menjadi daya pikat tersendiri bagi para muridnya. Apresiasi para murid tidak datang dengan sendirinya, namun melalui perjuangan yang keras dan melelahkan. Itu mengingat, bidang studi fisika selama ini sering dianggap sebagai pelajaran yang menakutkan.

Tjandra Heru selalu merasa penasaran pada kondisi semacam itu, sehingga dia ingin membuat para siswa belajar fisika dengan senang. Dia pun menemukan jawabannya, dengan membuat alat peraga sangat sederhana dan murah meriah. Makanya, tidak berlebihan bila banyak siswa yang mengenal Tjandra Heru berkat temuannya.

Mereka mengakui kepiawaian ayah dari empat anak dan dua cucu ini bila mengajarkan fisika. Saat mengajar, dia selalu menggunakan alat peraga yang lucu dan mudah dipahami. ”Pokoknya, pelajaran yang sulit bisa jadi gampang,” kata Dika. Pengakuan para siswa itu bukan isapan jempol belaka. Di antara alat peraga itu adalah tabung boyle, mesin uap sangat sederhana, kompas, AVO meter, tumbukan sederhana, paranglina (papan rangkaian listrik sederhana), elena (elektroskop sederhana), molimama (motor listrik matematik). Selain itu, dia juga membuat tabung berneulli, tabung apung tenggelam, cerio (cermin 2 in 1), prisma air, lensa air, tabung resonansi, lamp holder, magnet apung, dan lain-lain. Hebatnya, semua alat peraga buatan Tjandra ini tidak membutuhkan biaya yang mahal. Alat-alat itu terbuat dari barang-barang bekas seperti kertas, kaleng bekas roti, seng bekas, dan lain sebagainya.

Berkat kreativitas dan inovasi Tjandra, fungsi semua alat peraga yang sangat sederhana dan murah itu tidak kalah dengan alat peraga modern yang harganya pasti lebih mahal. ”Itu semua, sudah saya tekuni sejak 1976,” kata Tjandra ketika ditemui di SMAN 10 Malang. Menurut dia, membuat alat peraga dari barang bekas itu terilhami oleh banyaknya keluhan dari siswa yang belajar fisika. Mereka merasa sangat kesulitan bila mempelajari fisika. Keluhan serupa juga dia rasakan saat mengajar di SMAK Jember.

Lantas, dia hijrah ke Malang dengan niatan untuk melanjutkan studinya. Saat di Jember dia baru lulus diploma III, IKIP Malang, jurusan Matematika yang mengambil minor Fisika. Sesampainya di Malang, niat melanjutkan studi ke strata satu (S1) pun akhirnya hanya menjadi impian. Maklum, uang yang sudah disiapkan untuk biaya pendidikannya itu harus direlakan untuk biaya pengobatan anaknya, Renda Surenda Tjandra. Anak perempuannya ini terjangkit penyakit tifus. Ususnya bocor. Ada tujuh lubang di ususnya saat itu.

Tim medis yang menangani, terpaksa memutus sekitar 7 cm usus anaknya itu. Setelah dioperasi dan dipotong, ternyata bocor lagi. Dioperasi lagi, dan disambung lagi. Itu terjadi hingga lima kali. Akhirnya, dia frustrasi, karena tim medis yang menangani Renda juga sudah menilai secara medis tidak mungkin tertolong lagi. ”Sejak saat itu, saya hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Allah SWT. Saya berdoa kalau memang anak titipan ini Allah izinkan untuk saya asuh dengan baik, mohon diberi kesembuhan dan kesehatan. Waktu itu saya berdoa di masjid. Setelah itu, ternyata alhamdulillah, anak saya sembuh hingga sekarang,” ujar dia mengenang.

Meski anaknya sudah sembuh, dia tetap tidak bisa melanjutkan studinya. Bahkan, dia pun susah mencari kerja. Beberapa hari kemudian, suami Suciwati ini bertemu dengan teman kuliahnya, Muji Hartono seorang guru fisika di SMA Widya Dharma, Turen. Kala itu, dia diminta menggantikan mengajar fisika, karena Muji Hartono diangkat jadi dosen di IKIP Malang. Mulai saat itu, dia mengajar lagi. Namun, guru PNS yang kini berpangkat IIIB tersebut masih dalam kondisi yang serba kesusahan dan kesulitan. Akhirnya, dia bertemu Lukman Hakim (kini Dekan MIPA Universitas Negeri Malang) dan Ustad Mochtr Abdul Karim. Dua figur ini selalu memberikan semangat dan motivasi kepada Tjandra.

Tjandra pun mulai bangkit dan bersemangat lagi. Pada 1990 dia melamar menjadi guru PNS dalam usia 39 tahun. Tjandra diterima menjadi guru di SMPN 8 Kediri. Sejak saat itu, dia sering bolak-balik Malang-Kediri, karena keluarganya ada di Malang. Lantas, dia dipindah ke SMPN 17 Malang. Dia juga diminta temannya, Siswati membantu mengajar fisika di SMAN 10 Malang. Kehidupan Tjandra dan keluarganya mulai tertata dengan baik. Kreativitas dan sikap inovatifnya pun mulai tumbuh lagi sehingga dia sering mengikuti seminar, lomba, dan membuat alat peraga (http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1201923239)

2. Pak Eko

Pak Eko seorang guru Matematika di Purworejo yang dengan keterbatasannya dan tanpa gelar sarjana, tapi mampu menjadi guru tauladan yang mampu menggugah semangat belajar anak didiknya sehingga menjadikan pelajaran Matematika yang semula momok menjadi pelajaran favorit siswanya. Dimana nilai rata-rata siswa untuk pelajaran Matematika paling tinggi diantara mata pelajaran lain.

Pak Eko membawa masuk motornya ke dalam kelas hanya untuk mengajarkan pada siswanya tentang lingkaran. Atau alat-alat peraga lainnya yang ada di dalam kelas yang hanya dibuat dari kertas seadanya yang ada di sekelilingnya tapi mampu menjabarkan konsep matematika Pak Eko yang menarik bagi siswanya. Beliau juga tidak segan untuk memberikan hadiah-hadiah sederhana bagi siswa yang berhasil mengerjakan tugas yang diberikannya, yang semuanya berasal dari uang pribadi. (Pontianak Post, 2009)

3. Ibu Sri

Ibu Sri mengajarkan IPA di sebuah SD terpencil di Kabupaten Gunung Kidul. Walaupun lokasi yang jauh dan minimnya sarana dan prasarana tidak mematahkan niatnya untuk mengajar. Dia harus menempuh perjalanan 3 Km dengan kondisi geografis yang cukup terjal untuk sampai di SD tempatnya mengajar. Di sekolah dia harus membangkitkan motivasi anak didiknya yang belajar dalam keadaan perut kosong, karena hampir setiap hari mereka tidak sempat ”sarapan” karena tidak ada makanan di rumah.

Kesempatan untuk menikmati alat peraga IPA dari pemerintah yang ada 1 kali tiap 3 bulan (giliran alat peraga SD dalam satu gugus) membuat ibu Sri mengajak siswanya belajar langgsung ke alam terbuka (mengingatkan kita pada kisah ddalam Laskar Pelangi). (Pontianak Post, 2009)

Tentunya masih banyak kisah yang lain tentang pengabdian dan perjuangan seoarang guru dalam mengabdikan dirinya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Untuk menjadi pendidik dalam keterbatasan (”cahaya  lilin dalam kegelapan”) Arif Rahman seoarang pakar pendidikan menyatakan:

  1. Memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa; bahwa tejeki sudah diatur oleh Allah SWT  kita berdoa dan berusaha serta yakin pada kuasanya
  2. Mau berkorban dan ikhlas menerima kondisi yang ada
  3. Adanya tanggung jawab
  4. Adanya tekad ”Aku Bisa” membuat pendidik tidak putus asa dalam menjalankan tugasnya
  5. Tidak mengeluh, membuat pendidik terus termotivasi mencerdaskan bangsa

(Pontianak Post, 2009)