Menulis Bagaikan Naik Sepeda

Apa hubungan antara menulis dan naik sepeda? Ternyata banyak! Semua itu diulas di dalam artikel ini. Bagi Anda yang sedang berusaha untuk menulis, jangan sampai lupa naik sepeda…eh salah…baca artikel ini!

Dulu kalau ingin menulis lebih repot dibandingkan sekarang. Bayangkan kalau dulu kita ini orang Mesir kuno yang untuk menulis harus menggambar dan memahat batu. Salah sedikit saja batunya gumpil. Atau jadi orang nusantara jaman dulu yang menulisnya di daun lontar. Repot banget. Mungkin di antara kita pernah merasakan mengetik dengan mesin tik manual, yang kalau salah ngeselin banget. Di tip-ex, tiup biar kering, baru ketik lagi. Belum lagi kalau abis ngetik jari-jari jadi kapalan.
Kita yang hidup di jaman modern lebih gampang karena sudah ada komputer. Ingin hapus tinggal tekan tombol delete, bisa copy-paste. Enak banget. Tapi ternyata belum tentu skill menulis kita lebih tinggi dari orang jaman dulu.
Menulis itu seperti naik sepeda. Menulis adalah keahlian yang tidak bisa langsung dimiliki atau di-copy dari orang lain. Harus dialami sendiri. Melihat orang naik sepeda, rasanya gampang, tinggal naik, kayuh, jalan deh. Tetapi kalau sudah mengalami sendiri, baru terasa ternyata tidak mudah. Anda punya sepeda, belum tentu bisa naik sepeda kalau tidak dicoba. Anda punya komputer secanggih apapun kalau tidak pernah menulis ya nggak bakal bisa menulis.
Mengapa banyak orang merasa sulit menulis? Karena tidak pernah dilatih. Berapa banyak dari kita yang dulu waktu sekolah diminta untuk membuat paper atau tulisan untuk tugas sekolah. Lha wong pelajaran bahasa Indonesia cuma buat membaca, deklamasi doang. Kita tidak terbiasa menulis sejak kecil, terbiasanya cuma ngitung kancing kalau ada ujian. Kalau ada tugas membuat paper pun malah nyontek, jiplak sana jiplak sini. Padahal yang rugi Anda sendiri kalau dulu Anda nyontek. Dengan nyontek Anda tidak pernah belajar menuliskan pikiran Anda sendiri. Banyak dari kita membuang jatah ‘latihan menulis’ di sekolah. Yang rugi Anda sendiri toh.
Yah, itu mungkin masa lalu. Sekarang Anda ingin bisa menulis tetapi rasanya tidak pernah bisa. Ide mampet, dibaca kayanya jelek sekali. Itu semua hal biasa. Pernah belajar naik sepeda? Pernah jatuh, lecet, babak belur? Waktu dulu belajar naik sepeda, saya sempet masuk kali, nabrak warung (karena dulu saya tinggal di kampung). Bahkan setelah mahir naik sepeda pun saya masih bisa jatuh. Kalau ingin naik bisa naik sepeda, apa saya harus menyerah karena jatuh. Justru karena jatuh saya harus naik sepeda lagi, supaya bisa.
Supaya tidak stres waktu belajar naik sepeda, belajarlah naik sepeda perlahan-lahan. Jangan seperti saya. Belum pernah naik sepeda, langsung naik sepeda jengki punya orang dewasa (waktu itu saya masih imut-imut…duh imut-imut), hasilnya ya nabrak warung. Naiki sepeda sesuai kemampuan, misalnya pakai roda tiga dulu. Kalau menulis nulis yang ringan-ringan dulu, bikin diari, cerpen, kalo demen masak tulis resep, dll. Kalau sudah lumayan, copot rodanya hingga tinggal dua, makin lama bikin heboh lagi dengan berani akrobatik lepas setang. Mau lepas setang waktu pertama kali naik sepeda? Babak belur.
Kesulitan pertama pasti ada di awal, yaitu pada waktu belajar pertama kali. Setelah itu biasanya lebih mudah. Sama seperti naik sepeda. Pertama kali mau naik sepeda, groginya abis-abisan. Takut jatuh lah, takut diketawain lah. Biasa saja. Semua orang pernah belajar naik sepeda. Semua orang pernah jatuh. Bahkan penulis paling top pun pasti pernah ditolak naskahnya atau pernah butek nggak dapet ide. Sekarang kalau Anda sudah memiliki “sepeda” paling enak yang digunakan untuk menulis, alias komputer, pergunakanlah.
Suatu hari Forrest Gump sedang duduk sendirian dan menulis di buku catatannya di bangku taman. Sehelai bulu jatuh perlahan-lahan di bangku kosong di sebelahnya. Di depannya seorang anak sedang naik sepeda, kelihatannya ia sedang belajar karena berulang kali jatuh. Forest Gump hanya menggunam,”Life…er…writing is just like riding a bycicle.”
Hehehe
Menulis itu seperti naik sepeda.
Jatuh? Biasa. Naik lagi. Kayuh lagi. Gitu aja koq repot.

Oleh Didik Wijaya

Satu Balasan ke Menulis Bagaikan Naik Sepeda

  1. oliska mengatakan:

    hmm,,,,bgus… pas nih..
    makasi iia.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: