Mitos-Mitos dalam Menulis

Januari 12, 2010


Ada banyak mitos yang bisa menghalangi Anda untuk menulis. Mitos seringkali sangat mempengaruhi pola pikir kita. Padahal belum tentu sebuah mitos seratus persen benar. Anda cukup lihat dengan sudut pandang yang berbeda, maka mitos itu tidak akan menghalangi Anda untuk menjadi penulis yang handal. Di sini akan dibahas beberapa buah mitos yang mengkin mengurungkan niat Anda untuk menulis.

Mitos 1 : Menulis membutuhkan BANYAK waktu

Hal ini sangat mengganggu terutama untuk orang yang baru mencoba menjadi penulis. Orang yang sangat sibuk tentu akan bingung membagi waktunya untuk menulis. Boro-boro menulis, pekerjaan kantor menumpuk di meja kerja, pekerjaan rumah tangga bejibun banyaknya, mengurus anak, dan segala macam urusan lainnya. Bahkan penulis yang sudah senior pun kadang susah menyempatkan diri mencari waktu untuk menulis.

Selain itu orang enggan menulis, karena membayangkan harus menulis sebegitu tebal, berapa lama waktunya, kapan selesainya. Ada benarnya menulis itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Beberapa penulis membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menghasilkan tulisannya.

Tetapi sebenarnya Anda bisa membagi waktu yang sangat lama itu dalam waktu yang singkat tapi KONTINU. Anda dapat meluangkan waktu sedikit saja untuk menulis. Anda bisa lakukan itu saat menunggu antrian di salon, waktu naik kendaraan umum, atau Anda bisa saja mengurangi menonton sinetron tidak keruan yang ditayangkan di TV. Dengan waktu yang pendek tapi KONTINU maka Anda akan dapat menyelesaikan tulisan Anda dengan baik

Mitos 2 : Anda harus menulis sesuatu yang spektakular.

Banyk orang enggan menulis buku karena beranggapan mereka harus menulis sesuatu yang sensasional, dan tidak boleh yang kacangan. Mungkin ini ada kaitannya dengan gengsi. Pada dasarnya, setiap orang bebas menulis apa saja. Tidak melulu harus menulis sesuatu yang sangat rumit. Jika Anda menulis sesuatu yang sederhana pun, tidak menjadi masalah. Bila Anda bisa menuliskan dengan baik dan menarik, maka topik yang paling sederhana pun akan menjadi cerita yang menakjubkan.

Mitos 3 : Anda harus menjadi pakar sebelum bisa menulis

Ini adalah anggaan yang salah. Setiap orang berhak dan bisa menulis buku. Anda tidak harus menjadi seorang seorang ahli dalam bidang tertentu sebelum “boleh” menulis buku. Kata “boleh” saya beri tanda petik, karena ada beberapa orang yang beranggapan kalau menulis buku nanti kalau sudah jadi profesor baru berani menulis. Ini adalah anggapan yang salah, menulislah bahkan sewaktu Anda masih belajar. Apakah Anda pernah membaca buku Rich Dad Poor Dad? Apakah penulisnya menulis buku itu pada saat berlimpah kekayaan? Sama sekali tidak, justru ia menulis buku itu waktu sedang dalam keadaan melarat.

Mitos 4 : Anda harus menghasilkan tulisan yang sempurna

Mitos ini masih berkaitan dengan mitos sebelumnya, yaitu Anda harus menjadi pakar dulu baru “boleh” menulis. Lucunya, banyak orang sudah jadi pakar, tetapi malah belum menulis juga. Kenapa? Takut tulisannya tidak berbobot, gengsi kalau salah tulis, bahkan ragu apakah tulisannya layak dibilang tulisan yang baik. Seorang Stephen R Covey pernah menulis 7 Habits of Highly Effective People. Sekarang ia menulis The 8th Habit. Berarti apa yang ia tulis dahulu belumlah lengkap. Tidak masalah, bahkan ia bisa menjual ketidaksempurnaannya menjadi dua buah buku. Apakah ia akan menemukan ketidaksempurnaannya lagi sehingga menulis The 9th Habit? Why not?

Oleh: Didika Wijaya
http://www.escaeva.com/tips-menulis/tips-umum/meniru-dengan-kreatif.html


Meniru Dengan Kreatif

Januari 12, 2010


Meniru Dengan Kreatif

Memiliki naskah yang orisinal merupakan kebanggaan dan keinginan setiap penulis. Tidak ada penulis yang mau dituduh menyontek, menjiplak, plagiat (alias tukang nyolong). Bahkan penulis yang benar-benar plagiat pun akan menggeleng keras-keras kalau dituduh seperti itu karena tuduhan itu memang sama sekali tidak terhormat. Wajar saja, sejak mulai bersekolah kita selalu diajarkan untuk tidak menyontek.

Sayangnya tidak semua orang bisa memiliki kemampuan untuk menulis sesuatu yang orisinal dan unik. Yah, tidak dapat dipungkiri kemampuan setiap orang memang berbeda. Ada orang yang sanggup menulis masterpiece dalam sekejap mata. Sedangkan ada yang menulis selembar surat buat pacarnya saja sampai menghabiskan kertas satu rim. Tulisan ini tidak akan mengajarkan pada Anda bagaimana menghasilkan suatu naskah yang orisinal. Tetapi malah mengajarkan Anda untuk menjadi peniru—namun bukan sembarang peniru—yang kreatif.

Mari kita belajar dari pengalaman bangsa Jepang, bangsa yang saat ini sudah sangat maju dan menjadi tolok ukur perkembangan teknologi. Padahal kalau kita kembali tahun 1945, Jepang hancur lebur. Perekonomian hancur dan harga diri sebagai bangsa pun remuk redam. Tapi perlahan-lahan ia mulai bangkit dengan meniru. Ia memproduksi barang yang mirip buatan produk negara maju lain, tapi dengan berbagai modifikasi sederhana. Mungkin beberapa orang masih ingat kan tahun 1980-an ada stigma kalau “Made in Japan” adalah barang yang modelnya boleh keren tapi tidak awet. Tapi dari situ pelan-pelan Jepang mulai belajar menginovasi diri, dan sekarang malah menjadi inovator yang disegani.

Jadi menjadi peniru bukan hal yang dilarang. Lha, kita sendiri juga tiruan dari orang tua kita. Kalau tidak ada yang boleh meniru, penjual ayam goreng cuma ada satu sedunia. Tetapi faktanya setiap orang bisa menjual ayam goreng dengan gaya dan bumbu ala masing-masing. Namun ada syaratnya yaitu jangan jadi sembarang peniru, jadilah peniru yang kreatif. Jika Anda cuma asal menjiplak, ya siap-siap dihujat seluruh dunia. Nah untuk menjadi peniru yang kreatif Anda dapat menggunakan strategi ATM. Strategi ini dikenal dengan baik di dunia bisnis dan dapat Anda terapkan di dunia tulis menulis. ATM = AMATI, TIRU dan MODIFIKASI.

AMATI
Jika Anda berminat menulis bidang tertentu, carilah beberapa buku yang laris di bidang itu. Baca, amati, dan telaah apa yang mengakibatkan buku itu laris. Cari keunggulan apa yang dimilikinya, cari tahu pula kekurangannya. Pendek kata di sini Anda MELAKUKAN RISET UNTUK MENEMUKAN PELUANG menulis topik yang sama dengan cara berbeda.

TIRU
Tentu saja Anda harus tahu etika dan sejauh mana yang bisa diambil, dikutip, atau diadaptasi. Selama Anda bisa menjaga hal ini dan selama Anda tidak asal embat seperti kasus di sinetron Indonesia. Sebagai panduan, yang perlu Anda tiru adalah esensi tulisan yang ingin ditiru. Seperti kalau kita mencoba membuat ayam goreng, esensinya adalah menyajikan ayam goreng. Anda bisa meniru membuat ayam goreng dengan bumbu tepung ala sendiri atau mencoba sesuatu yang liar misalnya disajikan dengan bumbu petis (enak nggak sih?). Contoh novel yang mengambil esensi cerita lain misalnya Kung Pao Chicken Love yang ditulis oleh La Mian. Esensi atau topiknya adalah bagaimana kalau cowok yang kita cintai sebenarnya adalah mafia. Topik ini sebenarnya sudah diangkat dalam berbagai film, termasuk film drama asia seperti Married to The Mafia. Bahkan mungkin film ini pun terinspirasi oleh film barat Married to The Mob yang ceritanya tetang seorang gadis bule yang suaminya ternyata seorang mafia Italia. La Mian menulisnya dengan baik, mengembangkannya dengan unsur budaya Sunda, dan mencoba memasukkan gaya tulisannya sendiri. Intinya, Cobalah menulis ulang topik tersebut DENGAN GAYA ANDA SENDIRI. Ini penting. Jangan meniru mentah-mentah teknik atau gaya orang lain. Make it personal!

MODIFIKASI
Anda harus MEMBERIKAN SESUATU YANG BARU pada apa yang Anda tulis. Berdasar pengamatan sebelumnya misalnya Anda menulis dengan sudut pandang yang berbeda, memfokuskan pada sub-topik tertentu, mengadaptasi dengan nilai-nilai lokal, menambahi dengan pengetahuan Anda, membuat sanggahan atau malah dukungan pada topik tersebut, dan lain-lain.

Tidak semua bisa menjadi kecap nomor satu, karena memang cuma satu yang bisa. Inti dari tulisan ini adalah mungkin Anda tidak bisa menulis sesuatu yang orisinal, tetapi Anda bisa menulis sesuatu yang sudah pernah ditulis orang lain dengan gaya Anda sendiri, lebih baik, berbeda, dan memberikan nilai tambah pada orang lain.

Ingat ATM= Amati, Tiru, Modifikasi, jangan ATP=Amati, Tiru, Persis! (kalau yang ini kebangetan!)

Selamat Menulis

oleh Didik Wijaya
http://www.escaeva.com/tips-menulis/tips-umum/meniru-dengan-kreatif.html