Tes Diagnostik Fisika

Mei 2, 2011

Tes diagnostik digunakan untuk menggali konsepsi siswa. Berikut ini saya upload file dan link yang berhubungan dengan tes diagnostik.
1. Buku Panduan Tes Diagnostik (Depdiknas) download di sini Baca entri selengkapnya »


Bentuk-Bentuk Miskonsepsi Fisika

Juli 9, 2010

Salah satu penyebab rendahnya hasil belajar fisika karena siswa sering mengalami miskonsepsi. Miskonsepsi adalah konsepsi seseorang tentang konsep yang keliru. Miskonsepsi ini jika tidak ditanggulangi dengan benar, maka akan berdampak buruk pada hasil belajar. Menurut Paul Suparno (2005) untuk mengatasi miskonsepsi ada tiga langkah yang harus dilakukan, yaitu:
1. mencari atau menemukan bentuk-bentuk miskonsepsi
2. mencari penyebab terjadinya miskonsepsi
3. memilih metode yang sesuai untuk mengatasi miskonsepsi tersebut.
Dalam mempelajari fisika, siswa sering mengalami miskonsepsi. Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengatasi miskonsepsi ini. Berikut beberapa bentuk-bentuk miskonsepsi fisika:
- Jika kecepatan nol maka percepatan juga akan nol
- Percepatan sama dengan kecepatan
- Benda yang berat akan lebih cepat jatuh dibandingkan dengan benda yang ringan
- Massa mempengaruhi percepatan benda yang jatuh bebas
- Arah gaya gesek sama dengan arah gerak benda
- Benda yang diam tak memiliki energi
- Momentum sama dengan gaya
- Energi merupakan gaya
- Rotasi sama dengan revolusi
- Semua plenet mengorbit dengan kecepatan yang sama
- Kalor dan suhu merupakan besaran yang sama
- Kulit bisa digunakan untuk mengukur suhu
- Pada ayunan sederhana massa mempengaruhi frekuensi ayunan
- Pada pegas, amplitudo mempengaruhi frekuensi pegas
- Bayangan ikan yang dilihat dari atas lebih jauh dari jarak sesungguhnya
- Lensa cekung bisa mengumpulkan sinar
- Lensa cembung bisa menyebarkan sinar
- Gelombang memindahkan materi
- Gelombang tidak memiliki energi
- Kecepatan cahaya tidak bisa berubah
- Saat peristwa pemantulan cahaya frekuensi (warna) cahaya berubah
- Gaya listrik sama dengan gaya gravitasi
- Tegangan listrik merupakan energi
- Arus listrik sama dengan tegangan listrik
- Elektron bergerak cepat (mendekati kecepatan cahaya) di dalam rangkaian tertutup
- Konduktor tidak memiliki hambatan


Didaktogenic

Februari 10, 2010

Leo Sutrisno

Salah seorang pembaca merespon tulisan berseri ‘diagnose dan remediasi’ ini sembari menyarankan agar dibahas penyebab miskonsepsi. Tulisan ini menyajikan telaah tentang penyebab miskonsepsi yang bersumber pada guru dan buku teks.

Dalam bidang kedokteran ada istilah ‘iatrogenic disease’ yang merujuk ‘ailments’ yang disebabkan oleh dokter. Dalam pendidikan, penomena semacam juga dapat terjadi. Guru dan buku teks dapat menyebabkan miskonsepsi. Istilah ‘didaktogenic’ digunakan untuk mewadahi penjelasan-penjelasan guru atau sajian dalam buku teks yang dapat menimbulkan miskonsepsi. Sejumlah mahasiswa S1 Program Studi pendidikan fisika FKIP Untan telah meneliti topic ini dalam skripsi mereka.

Miskonsepsi dapat terjadi pada siapa saja, siswa, guru, pengarang buku ajar, dan bahkan pakar pun juga sesekali mengalaminya. Miskonsepsi para siswa datang dari berbagai arah. Dari kemampuan berpikir siswa sendiri, dari pengalaman sebelumnya, dari proses pembelajaran, dari penjelasan guru, atau dari sajian dalam buku teks. Miskonsepsi guru bisa diperoleh dari pendidikan dan latihan, interpretasi yang dibuat sendiri pada saat membaca buku teks atau bahkan dari buku teks itu sendiri yang diterima tanpa kritik. Miskonsepsi dalam buku teks dapat berasal dari penulisnya dan juga mungkin dari editornya. Miskonsepsi pakar dapat terjadi karena berbagai hal. Di antaranya, sudut pandang atau asumsi yang digunakan.

Miskonsepsi merupakan sesuatu yang menantang dalam pendidikan karena proses pendidikan tidak ‘reversable’, tidak dapat “dibaléni” –diproses-ulang. Miskonsepsi yang terjadi pada saat guru menjelaskan tidak dapat diulangi di lain tahun. Apa lagi kalau siswa sudah lulus dari sekolah yang bersangkutan Proses ini sangat berbeda dari proses produksi dalam suatu pabrik. Produk-produk yang yang tidak standar pada sebuah pabrik paku misalnya dapat dipisahkan dan kemudian diproses ulang. Dalam pendididkan tidak mungkin dilakukan proses ulang.

Selain itu, khusus di Indonesia, hingga kini soal-soal ujian yang dibuat oleh para ahli di tingkat nasional dan soal ulangan yang dibuat oleh para guru di lapangan tidak pernah menggali miskonsepsi. Sementara itu, sering terjadi, karena sifat soalnya, walaupun memiliki miskonsepsi siswa masih dimungkinkan dapat menjawab betul soal-soal ujian atau ulangan itu. Karena itu, siswa cenderung mempertahankan miskonsepsinya. Bahkan, tidak merasakan ada sesuatu yang ‘mis’, yang keliru.

Penjelasan para guru yang kurang lengkap juga cenderung menimbulkan miskonsepsi. Penelitian tentang catatan, para siswa tetap saja menggunakan penjelasan gurunya yang keliru keliru itu untuk menjawab soal-soal yang dihadapinya. Karena, mereka tidak berani berbeda pendapat dengan para gurunya. Mereka takut akan memperoleh nilai yang kurang jika berbuat demikian.
Catatan siswa, terutama kelas rendah merupakan bukti autentik dari kekeliruan yang dilakukan para guru karena pada umumnya semua para guru di Indonesia menekankan bahwa catatan siswa harus ‘ dengan yang ditulis di papan tulis atau yang didektekannya.

Penggunaan analogi oleh para guru untuk menjelaskan suatu penomena, kalau kurang tepat juga dapat menimbulkan miskonsepsi. Analagi merupakan salah satu cara berpikir untuk memahami sesuatu dengan membandingkannya dengan sesuatu yang lain. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari masalah yang sangat sukar diselesaikan karena banyak hal yang terkait di dalamnya dianalogikan dengan benang kusut. Benang kusut itu sukar untuk diurai, mana yang simpul mana yang ujung tidak mudah ditemukan. Demikian juga masalah yang rumit dapat diibaratkan sebagai benang kusut.

Para guru sering menggunaan analogi dalam menjelaskan penomena fisika yang sukar divisualisasikan. Misalnya, dalam menjelaskan penomena pembiasan cahaya para guru sering menggunakan analogi seperti Gambar 1.
Pipa sedotan dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air jernih. Tampak sedotan itu patah. Mengapa itu terjadi? Karena ada peritiwa pembiasan cahaya yang merambat dari sedotan ke mata melalui air (bagian awah) dan tanpa melalui air (bagian atas). Kemudian dikatakan, karena cahaya merambat melalui medium yang berbeda maka dibiaskan.

Peristiwa pembiasan yang baru saja disampaikan itu, tidak sama dengan yang terjadi di dalam ilustrasi Gambar 1. Perhatikan!. Besar pipanya berbeda antara bagian yang di tercelup air dan bagian tidak tercelup air. Peristiwa itu terjadi lebih disebabkan oleh pembiasan pada permukaan gelas yang berbentuk silinder ketimbang oleh karena permukaan air dalam gelas itu. Karena itu analogi seperti ini juga berpotensi menimbulkan miskonsepsi.

Sejumlah miskonsepsi juga dapat terjadi karena penjelasan yang disampaikan guru kurang rinci. Misalnya, penomena cahaya, : pemantulan, pembiasan, difraksi, dan interferensi hampir sepenuhnya dapat dijelaskan dengan ilustrasi gelombang permukaan air (ripple tank). Namun, perlu diingatkan bahwa ada beberapa pengecualian. Polarisasi cahaya dapat berlasung pada semua arah. Sebaliknya, polarisasi gelombang permukaan air hanya satu arah. Kedua, gelombang permukaan air memerlukan medium, sebaliknya cahaya tidak memerlukan medium. Energi gelombang medium berbanding terbalik dengan jarak karena hanya dua dimensi. Sementara itu, energi cahaya berbanding terbalik dengan kuadrat jarakkarena berdimensi ruang. Pengecualian-pengecualian seperti ini sebaiknya disampaikan kepada para siswa.

Belakangan ini muncul didaktogenic baru yaitu kecenderungan sebagian guru yang mendorong siswanya memilih jawaban yang betul dengan menggunakan soal-soal berbentuk objektif tanpa mendorong mencari penjelasannya. Bahkan banyak siswa yang berpendapat bahwa yang penting betul jawabannya dan bukan ‘mengapa’-nya. Hal ini dipicu oleh pelaksanaan UAN yang memang menggunakan bentuk soal objektik pilihan ganda. Para guru disarankan agar dalam kesempatan-kesempatan yang lain mendorong siswa berpikir yang lebih luas ketimbang hanya tahu jawaban yang benar saja.

Kata-kata ‘aksi sama dengan reaksi’, ‘setiap kejadian pasti ada penyebabnya’ juga dapat menyebabkan miskonsepsi kalau tidak dipergunakan dengan seksama.

Inilah beberapa contoh didaktogenic yang mungkin dapat dialami tanpa disadari oleh para guru. Diharapkan, para guru mempelajari materi lebih luas dan mendalam sebelum menjelaskan materi-materi fisika kepada siswa di kelas agar didaktogenic dapat diperkecil. Tentu saja ini juga berlaku untuk para dosen. Semoga!


Diagnostik dan Remediasi Kesulitan Belajar Fisika

Januari 25, 2010

Oleh: Leo Sutrisno

Diagnose dan remediasi kesulitan belajar fisika 10: Hukum Newton III

Leo Sutrisno

Jika suatu benda berinteraksi dengan suatu benda lain maka dihasilkan suatu gaya yang berupa dorongan atau tarikan pada pada benda-benda itu. Interaksi itu dapat berupa persentuhan langsung (saling menempel) ada juga yang berupa kontak-jarak jauh (misalnya: gaya gravitasi Bumi, gaya magnet)
Newton menyusun sebuah hukum yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan interaksi ini. Dikatakan bahwa jika sebuah benda A berinteraksi dengan benda B, mereka saling mengerjakan gaya antara yang satu dengan yang lain. Benda A mengerjakan gaya pada benda B dan sebaliknya benda B mengerjakan gaya pada benda A. Kedua gaya ini disebut gaya aksi dan reaksi. Benda memberikan gaya aksi pada B dan benda B memberikan gaya reaksi pada A.

Hubungan antara gaya aksi dan reaksi ini dinyatakan secara formal oleh Issac Newton dalam bentuk Hukum Newton III tentang gerak. Bentuk formalnya adalah sebagai berikut: Setiap aksi akan mendapat reaksi yang sama besar dan berlawanan arah. Pernyataan ini berarti bahwa pada setiap interaksi terdapat sepasang gaya yang bekerja pada kedua benda yang sedang berinteraksi. Besar gaya yang dikerjakan oleh benda pertama pada benda kedua sama besar dengan gaya yang dikerjakan oleh benda kedua pada benda pertama. Namun arahnya saling berlawanan. Dikatakan bahwa gaya selalu muncul secara berpasangan.

Misalnya, saat ini kita sedang duduk di kursi sambil membaca tulisan ini. Kita mengerjakan gaya pada kursi dengan arah ke bawah (ke arah kursi) sebesar gaya berat kita. Demikian juga, kursi memberikan gaya ke atas yang menahan kita yang disebut gaya normal. Besar gaya berat tubuh kita sama dengan besar gaya normal yang dikerjakan kursi pada tubuh kita.

Banyak siswa yang memiliki miskonsepsi tentang Hukum Newton III ini. Salah satu di antaranya, benda yang memiliki massa yang lebih besar memberikan gaya yang lebih besar.

a. Tes diagnostik

Sebuah kotak berada di atas meja. Karena beratnya, kotak mengerjakan sebuah gaya aksi pada meja sebesar gaya berat kotak. Sebagai reaksi, meja mengerjakan gaya pada kotak untuk menahan kotak itu. Mana yang betul?
a. Gaya yang dikerjakan kotak pada meja lebih besar dari gaya yang dikerjakan meja pada kotak.
b. Gaya yang dikerjakan kotak pada meja lebih kecil dari gaya yang dikerjakan meja pada kotak.
c. Gaya yang dikerjakan kotak pada meja sama besar dengan gaya yang dikerjakan meja pada kotak.

Siswa yang memiliki miskonsepsi akan memilih jawaban b, yaitu gaya yang dikerjakan kotak pada meja lebih kecil dari gaya yang dikerjakan meja pada kotak. Jika ditanyakan mengapa? Jawaban yang muncul adalah meja lebih besar dari pada kotak. Karena itu meja mengerjakan gaya yang lebih besar. Mereka menggunakan prinsip semakin besar massa benda semakin besar gaya yang diberikan.

b. Remediasi

Amati kotak. Pada kotak itu terdapat sepasang gaya, yaitu: gaya berat dan gaya meja yang menahan kotak. Gaya berat kotak merupakan akibat dari gaya tarik bumi. Arahnya ke bawah. Gaya meja yang menahan kotak merupakan gaya reaksi meja karena ada kotak di atasnya. Arah gaya reaksi ke atas.

Jika betul pilihan b, meja memberikan gaya yang lebih besar pada kotak daripada gaya berat kotak maka pada kotak masih memiliki gaya netto ke atas. Akibatnya, kotak mempunyai percepatan ke atas. Karena mempunyai percepatan berarti kotak bergerak. Kotak bergerak ke atas meninggalkan meja. Benarkah?! Tidak! Kotak tetap diam di atas meja.
Jadi, tidak mungkin jika gaya yang diberikan meja lebih besar dari pada gaya berat kotak.

Apakah lebih kecil?
Juga tdak mungkin! Sebab, jika lebih kecil maka kotak akan bergerak ke bawah menerobos permukaan meja. Maka, yang betul adalah gaya yang dikerjakan meja pada kotak sama besar dengan gaya yang dikerjakan kotak pada meja.
Setuju?!

Bagaimana halnya dengan motor Anda? Mengapa dapat bergerak? Jengan di jawab karena mesinnya hidup. Coba bayangkan mesin motor Anda hidup, dan ditempatkan di atas lantai yang sangat licin. Misalnya, lantai keramik yang disiram olie. Tambah lagi, ban luarnya sudah halus, batikannya sudah tidak ada. Apakah motor itu melaju seperti di atas jalan aspal? Jadi, mesin yang hidup tidak cukup menjadi syarat motor dapat bergerak. Silahkan pikir, apa yang terjadi pada persentuhan antara ban luar dan permukaan jalan?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.