Meta-Analisis

Februari 15, 2010

Meta-analisis adalah tehnik yang digunakan untuk merangkum berbagai hasil penelitian secara kuantitatif dengan cara mencari nilai efek size ( Barbora 2009; Sutrisno, Hery, Kartono 2007 ). Efek size dicari dengan cara mencari selisih rata-rata kelas eksperimen dengan rata-rata kelas control, kemudian dibagi dengan standar deviasi kelas control.

Tahapan dalam mengerjakan meta-analisis (Jammie 2004; Sutrisno, Hery, Kartono 2007)
1. menetapkan domain penelitian yang akan dirangkum
2. memilih jenis publikasi yang akan dikumpulkan
3. mengumpulkan hasil penelitian atau literatur
4. mencatat data-data (variabel-variabel) penelitian
5. menghiting efek size per sumber atau penelitian
6. menginterpretasi rangkuman dan membuat laporan

Data-data penting yang dicatat dari hasil peneltian yang dirangkum antara lain:
1. variable bebas dan variable terikat beserta definisi konseptual dan definisi operasionalnya,
2. variable metodolgi, missal: jenis penelitian, cara pengambilan sample, statistic yang digunakan dalam analisis, jenis instrumen dan karaktristiknya
(Sutrisno, Hery, Kartono 2007)


Didaktogenic

Februari 10, 2010

Leo Sutrisno

Salah seorang pembaca merespon tulisan berseri ‘diagnose dan remediasi’ ini sembari menyarankan agar dibahas penyebab miskonsepsi. Tulisan ini menyajikan telaah tentang penyebab miskonsepsi yang bersumber pada guru dan buku teks.

Dalam bidang kedokteran ada istilah ‘iatrogenic disease’ yang merujuk ‘ailments’ yang disebabkan oleh dokter. Dalam pendidikan, penomena semacam juga dapat terjadi. Guru dan buku teks dapat menyebabkan miskonsepsi. Istilah ‘didaktogenic’ digunakan untuk mewadahi penjelasan-penjelasan guru atau sajian dalam buku teks yang dapat menimbulkan miskonsepsi. Sejumlah mahasiswa S1 Program Studi pendidikan fisika FKIP Untan telah meneliti topic ini dalam skripsi mereka.

Miskonsepsi dapat terjadi pada siapa saja, siswa, guru, pengarang buku ajar, dan bahkan pakar pun juga sesekali mengalaminya. Miskonsepsi para siswa datang dari berbagai arah. Dari kemampuan berpikir siswa sendiri, dari pengalaman sebelumnya, dari proses pembelajaran, dari penjelasan guru, atau dari sajian dalam buku teks. Miskonsepsi guru bisa diperoleh dari pendidikan dan latihan, interpretasi yang dibuat sendiri pada saat membaca buku teks atau bahkan dari buku teks itu sendiri yang diterima tanpa kritik. Miskonsepsi dalam buku teks dapat berasal dari penulisnya dan juga mungkin dari editornya. Miskonsepsi pakar dapat terjadi karena berbagai hal. Di antaranya, sudut pandang atau asumsi yang digunakan.

Miskonsepsi merupakan sesuatu yang menantang dalam pendidikan karena proses pendidikan tidak ‘reversable’, tidak dapat “dibaléni” –diproses-ulang. Miskonsepsi yang terjadi pada saat guru menjelaskan tidak dapat diulangi di lain tahun. Apa lagi kalau siswa sudah lulus dari sekolah yang bersangkutan Proses ini sangat berbeda dari proses produksi dalam suatu pabrik. Produk-produk yang yang tidak standar pada sebuah pabrik paku misalnya dapat dipisahkan dan kemudian diproses ulang. Dalam pendididkan tidak mungkin dilakukan proses ulang.

Selain itu, khusus di Indonesia, hingga kini soal-soal ujian yang dibuat oleh para ahli di tingkat nasional dan soal ulangan yang dibuat oleh para guru di lapangan tidak pernah menggali miskonsepsi. Sementara itu, sering terjadi, karena sifat soalnya, walaupun memiliki miskonsepsi siswa masih dimungkinkan dapat menjawab betul soal-soal ujian atau ulangan itu. Karena itu, siswa cenderung mempertahankan miskonsepsinya. Bahkan, tidak merasakan ada sesuatu yang ‘mis’, yang keliru.

Penjelasan para guru yang kurang lengkap juga cenderung menimbulkan miskonsepsi. Penelitian tentang catatan, para siswa tetap saja menggunakan penjelasan gurunya yang keliru keliru itu untuk menjawab soal-soal yang dihadapinya. Karena, mereka tidak berani berbeda pendapat dengan para gurunya. Mereka takut akan memperoleh nilai yang kurang jika berbuat demikian.
Catatan siswa, terutama kelas rendah merupakan bukti autentik dari kekeliruan yang dilakukan para guru karena pada umumnya semua para guru di Indonesia menekankan bahwa catatan siswa harus ‘ dengan yang ditulis di papan tulis atau yang didektekannya.

Penggunaan analogi oleh para guru untuk menjelaskan suatu penomena, kalau kurang tepat juga dapat menimbulkan miskonsepsi. Analagi merupakan salah satu cara berpikir untuk memahami sesuatu dengan membandingkannya dengan sesuatu yang lain. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari masalah yang sangat sukar diselesaikan karena banyak hal yang terkait di dalamnya dianalogikan dengan benang kusut. Benang kusut itu sukar untuk diurai, mana yang simpul mana yang ujung tidak mudah ditemukan. Demikian juga masalah yang rumit dapat diibaratkan sebagai benang kusut.

Para guru sering menggunaan analogi dalam menjelaskan penomena fisika yang sukar divisualisasikan. Misalnya, dalam menjelaskan penomena pembiasan cahaya para guru sering menggunakan analogi seperti Gambar 1.
Pipa sedotan dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air jernih. Tampak sedotan itu patah. Mengapa itu terjadi? Karena ada peritiwa pembiasan cahaya yang merambat dari sedotan ke mata melalui air (bagian awah) dan tanpa melalui air (bagian atas). Kemudian dikatakan, karena cahaya merambat melalui medium yang berbeda maka dibiaskan.

Peristiwa pembiasan yang baru saja disampaikan itu, tidak sama dengan yang terjadi di dalam ilustrasi Gambar 1. Perhatikan!. Besar pipanya berbeda antara bagian yang di tercelup air dan bagian tidak tercelup air. Peristiwa itu terjadi lebih disebabkan oleh pembiasan pada permukaan gelas yang berbentuk silinder ketimbang oleh karena permukaan air dalam gelas itu. Karena itu analogi seperti ini juga berpotensi menimbulkan miskonsepsi.

Sejumlah miskonsepsi juga dapat terjadi karena penjelasan yang disampaikan guru kurang rinci. Misalnya, penomena cahaya, : pemantulan, pembiasan, difraksi, dan interferensi hampir sepenuhnya dapat dijelaskan dengan ilustrasi gelombang permukaan air (ripple tank). Namun, perlu diingatkan bahwa ada beberapa pengecualian. Polarisasi cahaya dapat berlasung pada semua arah. Sebaliknya, polarisasi gelombang permukaan air hanya satu arah. Kedua, gelombang permukaan air memerlukan medium, sebaliknya cahaya tidak memerlukan medium. Energi gelombang medium berbanding terbalik dengan jarak karena hanya dua dimensi. Sementara itu, energi cahaya berbanding terbalik dengan kuadrat jarakkarena berdimensi ruang. Pengecualian-pengecualian seperti ini sebaiknya disampaikan kepada para siswa.

Belakangan ini muncul didaktogenic baru yaitu kecenderungan sebagian guru yang mendorong siswanya memilih jawaban yang betul dengan menggunakan soal-soal berbentuk objektif tanpa mendorong mencari penjelasannya. Bahkan banyak siswa yang berpendapat bahwa yang penting betul jawabannya dan bukan ‘mengapa’-nya. Hal ini dipicu oleh pelaksanaan UAN yang memang menggunakan bentuk soal objektik pilihan ganda. Para guru disarankan agar dalam kesempatan-kesempatan yang lain mendorong siswa berpikir yang lebih luas ketimbang hanya tahu jawaban yang benar saja.

Kata-kata ‘aksi sama dengan reaksi’, ‘setiap kejadian pasti ada penyebabnya’ juga dapat menyebabkan miskonsepsi kalau tidak dipergunakan dengan seksama.

Inilah beberapa contoh didaktogenic yang mungkin dapat dialami tanpa disadari oleh para guru. Diharapkan, para guru mempelajari materi lebih luas dan mendalam sebelum menjelaskan materi-materi fisika kepada siswa di kelas agar didaktogenic dapat diperkecil. Tentu saja ini juga berlaku untuk para dosen. Semoga!


Diagnose dan remediasi kesulitan belajar 1: Pendahuluan

Februari 10, 2010

Leo Sutrisno

Dalam beberapa pertemuan dengan sejumlah guru yang sedang mengikuti kegiatan PLPG 2008 yang lalu, diperoleh sejumlah saran tentang tulisan yang disajikan secara berseri di Pontianak Post. Salah satu di antaranya menyarankan agar disajikan tulisan tentang kegiatan remedial. Karena, sejak  diterapkannya kurikulum baru yang menggunakan pendekatan belajar tuntas kegiatan remedial harus dilaksanakan oleh setiap guru.

Pendekatan belajar tuntas menggunakan prinsip: ’Jika materi A merupakan prasyarat untuk mempelajari materi B maka hanya siswa yang telah menguasai materi A secara tuntas baru dibolehkan mempelajari materi B’.  Kriteria yang digunakan oleh para guru untuk menetapkan ketuntasan belajar siswa saat ini Standar Kompetensi Minimum, yang dinyatakan dilai bentuk skor (nilai). Mereka yang memeliki nilai kurang dari (nilai) Standar Kompetensi Minimum itu diwajibkan mengikuti kegiatan remedial, yaitu dengan cara mengikuti tes ulang beberapa kali hingga mencapai nilai stadar kopmpetensi minimum  tersebut. Dengan perkataan lain, kegiatan remedial seperti ini bertujuan unutk meningkatkan nilai agar mencapai nilai standar.

Dalam tulisan berseri ke depan dengan tema diagnose dan remediasi kesulitan belajar bukan arti seperti itu. Tetapi, hal itu berupa kegiatan yang bertujuan membantu para siswa dalam mengatasi kesulitan belajar yang mereka alami dengan fokus mengubah konsepsi siswa agar menjadi konsisten dengan konsepsi para ilmuwan.

Dipahami, dalam proses pembelajaran, para siswa aktif mengkonstruksi pengetahuannya sendiri (aktif menyusun konsepsinya sendiri) melalui interaksi dengan para guru dan teman-temannya dengan cara membuat hubungan (link). Hasilnya berupa konsepsinya  (Baca: pengetahuannya) sendiri tentang materi yang sedang dipelajari. Sudah barang tentu ada konsepsi mereka yang sudah konsisten dengan konsepsinya para inuwan, tetapi juga ada yang berbeda dengan konsepsi ilmuwan. Konsepsi siswa yang berbeda dari konsepsi para ilmuwan disebut miskonsepsi.

Fokus dari remeiasi yang ada dalam seri tulisan ini adalah memperbaiki miskonsepsi yang dimiliki para siswa agar menjadi konsisten dengan konsepsi ilmuwan. Sedangkan diagnosenya merupakan kegiatan menggali miskonsepsi para siswa. Kegiatan diagnose ini sering dilakukan dengan cara mengadakan tes diagnostik. Gambar 1 menyajikan alur kegiatan itu. Diawali dengan melakukan asesmen kepada siswa setelah selesai mengikuti proses pembelajaran untuk menentukan para iswa yang telah tuntas dan yang belum. Mereka yang belum tuntas diberi tes diagnostik unutk menemukan miskonsepsi mereka. Berdasarkan miskonsepsi yang ditemukan disusun kegiatan remediasi unutk ’membongkar’ miskonsepsi mereka dan bersedia menerima konsepsi ilmuwan.

Mencermati diagram alur yang tersaji pada Gambar 1 itu, terlihat bahwa kegiatan remediasi tidak serta merta menghasilkan nilai siswa sedemikian ruoa sehingga mencapai standar kompetensi minimum. Kegiatan remediasi mendobrak miskonsepsi. Siharapkan setelah tidak mis lagi, siswa yang bersangkutan tidak lagi mengalami kesulitan dalam mengikuti asesmen hasil belajar. Dengan begitu, diharapkan hasil asesmennya menunjukkan bahwa siswa yang bersangkutan telah memenuhi standar kompetensi minimum.


Didaktogenic Buku Ajar

Februari 10, 2010

Leo Sutrisno

Ada esem-es pembaca yang kurang yakin bahwa ada buku ajar yang mengandung didaktogenic-punya kecenderungan menimbulkan miskonsepsi pada siswa. Dalam es-em-es itu dikatakan bahwa buku ajar itu ditulis oleh orang yang pandai, buku ajar itu telah lolos koreksi para editor, buku ajar itu telah lolos dalam ujian waktu, bertahun-tahun menggunakan buku itu dan tidak ada yang ’komplin’ (berkeberatan). Bahkan banyak siswanya (Jadi, esemes ini dari seorang guru, pen.) yang lulus dengan nilai tinggi pada mata pelajaran fisika.

Beberapa mahasiswa program studi pendidikan fisika, jurusan pendidikan MIPA-FKIP Untan sudah dan sedang membuat skrips tentang miskonsepsi yang disajikan oleh sejumlah buku ajar fisika yang beredar di Kalimantan Barat. Mungkin, kelak dapat juga ditampilkan disini untuk kepentingan masyarakat luas. Dalam tulisan ini akan disajikan salah contoh sajian buku ajar tentang cahaya yang mudah ditemukan di banyak buku ajar.

Pembiasan lensa
Pada Gambar 1, disajikan contoh gambar sinar-sinar istimewa pada lensa cembung. Mari kita cermati dengan seksama. Berkas cahaya yang memancar dari lilin dibagi menjadi tiga macam berkas yaitu berkas yang sejajar sumbu utama (1), berkas cahaya yang melewati pusat optis (2), dan berkas cahaya yang melalui titik api (3). Berkas (2) tidak mengalami pembiasan karena katanya lewat pusat optis. Cukupkah alasan itu? Tidak!. Mengapa? Semua berkas cahaya yang datang pada permukaan lensa dibiaskan kecuali yang datang dari ari yang tegak lurus bidang permukaan lensa. Berkas (2) tidak datang tigak lurus bidang permukaan lensa, karena itu berkas (2) dibiaskan.

Berkas (1) dan berkas (3) juga berpotensi menimbulkan miskonsepsi karena peristiwa pembiasannya berlangsung pada bidang tengah lensa. Sebenarnya, pembiasan terjadi dipermukaan lensa. Karena, di situ terjadi perbedaan indeks bias, kecepatannya berubah.

Gambar 1 semacam ini muncul hampir di buku-buku fisika dasar dan juga di banyak buku ajar SMA. Memang, tampaknya tidak bermasalah bagi orang yang telah tahu. Tetapi, bagi banyak guru, yang kurang berani mengkritisi isi buku ajar yang dipegangnya, gambar semacam ini diteruskan kepada para siswanya.
Gambar 1

Pemantulan

Gambar 2 juga mengandung didatogenic. Mari kita coba menggambarkan berkas cahaya istimewa yang lain. Berkas itu berasal dari ujung nyala lilin merambat menuju titik api di depan lensa kemudian datang pada permukaan cermin cekung dan dipantulkan dengan arah sejajar dengan sumbu utama. Apa yang terjadi? Ternyata, berkas sinar pantul itu tidak melewati ujung bayangan lilin. Seharusnya melewati!
Sebagian guru dan penulis akan mengatakan ada pengaruh ’aberasi’. Betul! Terjadi aberasi. Namun, apakah harus sefatal itu?!
Gambar 2

Mata

Ilustrasi Gambar 3, yang juga banyak ditiru di Indonesia, memperlihatkan bahwa tidak ada pembiasan berkas cahaya yang masuk mata. Padahal, sebenarnya begitu memasuki kornea, cahaya langsung dibiaskan. Lensa mata berfungsi ’membetulkan’ agar bayangannya tepat jatuh di retina. Proses pembiasan utama terjadi di cornea. Tetapi, sebagian besar gambar ilustrasi pembiasan pada mata menunjukkan peristiwa pembiasan terjadi hanya pada lensa mata.

Kita juga dapat melihat bahwa Gambar 3 itu menunjukkan persamaan dan perbedaan antara kamera dan mata. Tetapi, kita temukan bahwa perbandingan itu tidak betul. Mari kita lihat. Berkas cahaya yang masuk ke mata melalui pusat optik lensa, karena itu tidak dibiaskan. Tidak demikian halnya pada kamera. Tidak ada satu berkas pun yang melewati pusat lensa.
Gambar 3

Mari kita perhatikan bayangan yang terbentuk pada kamera. Apakah seperti itu?

Inilah sejumlah ilustrasi pada buku teks universitas yang banyak ditiru oleh penulis mata pelajaran fisika di Indonesia, juga buku terjemahannya, yang termasuk mengandung didaktogenic. Disarankan para pemakai hendaknya mengembangkan pemikiran kritisnya.


Fisika Bukan Matematika

Februari 2, 2010

Banyak guru fisika yang mengajar fisika salah kaprah. Mereka bukan mengajar fisika tetapi mengajar matematika dengan contoh-contoh soal fisika. Menurut Judyanto (2010) dan Lindefeld (2002) selama ini pengajaran fisika lebih banyak menggunakan pendekatan matematik dan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk masalah matematika.
Fisika bukan matematika, tetapi fisika butuh matematika untuk menyederhanakan konsep-konsep fisika yang dibuat dalam bentuk persamaan matematika (rumus). Untuk memahami konsep-konsep fisika, siswa harus terampil dalam merepresentasikan konsep-konsep tersebut dengan berbagai cara (multirepresentasi).
Keterampilan representasi adalah kemampuan yang harus dimiliki untuk meninterprestasi dan menerapkan berbagai konsep untuk memecahkan masalah-masalah secara tepat (Kohl dan Noah dalam Judyanto 2010), sedangkan multirepresentasi adalah representasi konsep yang dilakukan lebih dari satu cara.
Menurut Leo Sutrisno representasi dalam fisika ada tiga yaitu (1) representasi verbal; (2) representasi fisis; dan (3) representasi matematis
Jadi dalam pembelajaran fisika ketiga representasi tersebut harus diterapkan guru fisika agar siswa memahami konsep-konsep fisika dengan benar. Contoh konsep percepatan
Representasi verbal :percepatan adalah perubahan kecepatan yang terjadi setelah selang waktu tertentu bukan kecepatan dibagi dengan waktu (pernyataan yang diambil dari persamaan matematis)
Representasi fisis : perubahan kecepatan tersebut bisa disajikan dalam bentuk gambar bergerak (animasi)
Representasi matematis : perubahan kecepatan dan selang waktu dilambangkan dengan simbol dan dibuat dalam bentuk persamaan (rumus)
Semoga pengajaran fisika dapat berlanggsung dengan menerapkan ketiga representasi tersebut untuk mengurangi miskonsepsi fisika.


Menghitung kuadrat satuan 5 dengan cepat

Januari 27, 2010

ini cara menghitung kuadrat satuan 5 yang biasa saya ajarkan kepada murid les saya.

15 x 15 , langkah pertama kalikan satuan 5 x 5 hasilnya 25; simpan jawaban ini sebagi hasil puluhan dan satuan; langkah berikutnya kalikan angka puluhan (1) dengan angka berikutnya (1 x 2) maka jawabanya 2, simpan jawaban ini untuk ratusan
hasil akhir jawaban 215

15 x 15 = 225

contoh yang lain
25 x 25 –> (5 x 5 = 25); (2 x 3 = 6) maka hasil 25 x 25 = 625

35 x 35 –> (5 x 5 = 25); (3 x 4 = 12) maka hasil 35 x 35 = 1225

langkah yang sama kita lakukan untuk mendapatkan jawaban

45 x 45 = 2025

55 x 55 = 3035

65 x 65 = 4225

semoga bermanfaat


Diagnostik dan Remediasi Kesulitan Belajar Fisika

Januari 25, 2010

Oleh: Leo Sutrisno

Diagnose dan remediasi kesulitan belajar fisika 10: Hukum Newton III

Leo Sutrisno

Jika suatu benda berinteraksi dengan suatu benda lain maka dihasilkan suatu gaya yang berupa dorongan atau tarikan pada pada benda-benda itu. Interaksi itu dapat berupa persentuhan langsung (saling menempel) ada juga yang berupa kontak-jarak jauh (misalnya: gaya gravitasi Bumi, gaya magnet)
Newton menyusun sebuah hukum yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan interaksi ini. Dikatakan bahwa jika sebuah benda A berinteraksi dengan benda B, mereka saling mengerjakan gaya antara yang satu dengan yang lain. Benda A mengerjakan gaya pada benda B dan sebaliknya benda B mengerjakan gaya pada benda A. Kedua gaya ini disebut gaya aksi dan reaksi. Benda memberikan gaya aksi pada B dan benda B memberikan gaya reaksi pada A.

Hubungan antara gaya aksi dan reaksi ini dinyatakan secara formal oleh Issac Newton dalam bentuk Hukum Newton III tentang gerak. Bentuk formalnya adalah sebagai berikut: Setiap aksi akan mendapat reaksi yang sama besar dan berlawanan arah. Pernyataan ini berarti bahwa pada setiap interaksi terdapat sepasang gaya yang bekerja pada kedua benda yang sedang berinteraksi. Besar gaya yang dikerjakan oleh benda pertama pada benda kedua sama besar dengan gaya yang dikerjakan oleh benda kedua pada benda pertama. Namun arahnya saling berlawanan. Dikatakan bahwa gaya selalu muncul secara berpasangan.

Misalnya, saat ini kita sedang duduk di kursi sambil membaca tulisan ini. Kita mengerjakan gaya pada kursi dengan arah ke bawah (ke arah kursi) sebesar gaya berat kita. Demikian juga, kursi memberikan gaya ke atas yang menahan kita yang disebut gaya normal. Besar gaya berat tubuh kita sama dengan besar gaya normal yang dikerjakan kursi pada tubuh kita.

Banyak siswa yang memiliki miskonsepsi tentang Hukum Newton III ini. Salah satu di antaranya, benda yang memiliki massa yang lebih besar memberikan gaya yang lebih besar.

a. Tes diagnostik

Sebuah kotak berada di atas meja. Karena beratnya, kotak mengerjakan sebuah gaya aksi pada meja sebesar gaya berat kotak. Sebagai reaksi, meja mengerjakan gaya pada kotak untuk menahan kotak itu. Mana yang betul?
a. Gaya yang dikerjakan kotak pada meja lebih besar dari gaya yang dikerjakan meja pada kotak.
b. Gaya yang dikerjakan kotak pada meja lebih kecil dari gaya yang dikerjakan meja pada kotak.
c. Gaya yang dikerjakan kotak pada meja sama besar dengan gaya yang dikerjakan meja pada kotak.

Siswa yang memiliki miskonsepsi akan memilih jawaban b, yaitu gaya yang dikerjakan kotak pada meja lebih kecil dari gaya yang dikerjakan meja pada kotak. Jika ditanyakan mengapa? Jawaban yang muncul adalah meja lebih besar dari pada kotak. Karena itu meja mengerjakan gaya yang lebih besar. Mereka menggunakan prinsip semakin besar massa benda semakin besar gaya yang diberikan.

b. Remediasi

Amati kotak. Pada kotak itu terdapat sepasang gaya, yaitu: gaya berat dan gaya meja yang menahan kotak. Gaya berat kotak merupakan akibat dari gaya tarik bumi. Arahnya ke bawah. Gaya meja yang menahan kotak merupakan gaya reaksi meja karena ada kotak di atasnya. Arah gaya reaksi ke atas.

Jika betul pilihan b, meja memberikan gaya yang lebih besar pada kotak daripada gaya berat kotak maka pada kotak masih memiliki gaya netto ke atas. Akibatnya, kotak mempunyai percepatan ke atas. Karena mempunyai percepatan berarti kotak bergerak. Kotak bergerak ke atas meninggalkan meja. Benarkah?! Tidak! Kotak tetap diam di atas meja.
Jadi, tidak mungkin jika gaya yang diberikan meja lebih besar dari pada gaya berat kotak.

Apakah lebih kecil?
Juga tdak mungkin! Sebab, jika lebih kecil maka kotak akan bergerak ke bawah menerobos permukaan meja. Maka, yang betul adalah gaya yang dikerjakan meja pada kotak sama besar dengan gaya yang dikerjakan kotak pada meja.
Setuju?!

Bagaimana halnya dengan motor Anda? Mengapa dapat bergerak? Jengan di jawab karena mesinnya hidup. Coba bayangkan mesin motor Anda hidup, dan ditempatkan di atas lantai yang sangat licin. Misalnya, lantai keramik yang disiram olie. Tambah lagi, ban luarnya sudah halus, batikannya sudah tidak ada. Apakah motor itu melaju seperti di atas jalan aspal? Jadi, mesin yang hidup tidak cukup menjadi syarat motor dapat bergerak. Silahkan pikir, apa yang terjadi pada persentuhan antara ban luar dan permukaan jalan?


Tips bagi Guru dalam Memanfaatkan Media Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Pembelajaran

Januari 25, 2010

Penulis: Sudirman Siahaan

Guru dikatakan sebagai seseorang yang mengelola kegiatan pembelajaran bagi para peserta didiknya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas menjadi wewenang dan tanggungjawab guru. Sumber-sumber belajar apa saja yang akan dimanfaatkan di dalam kelas adalah sepenuhnya berada di tangan guru. Metode pembelajaran yang bagaimana yang akan dterapkan di dalam kelas untuk menyajikan materi pelajaran tertentu adalah juga menjadi tanggungjawab guru. Sekalipun sudah ada panduan tentang metode pembelajaran yang ditetapkan untuk digunakan guru dalam menyajikan materi pelajaran, namun tetap saja guru memiliki kewenangan untuk memilih dan menetapkan metode pembelajaran yang akan digunakannya di dalam kelas.

Pengadaan media TIK untuk kegiatan pembelajaran bisa saja berasal dari sekolah itu sendiri atau dari pihak lain. Pada dasarnya tidak menjadi masalah dari manapun asalnya media TIK yang sampai di sekolah. Yang justru lebih penting lagi adalah bagaimana menyiasati agar media TIK yang telah tersedia di sekolah dapat dioptimalkan pemanfaatannya bagi kepentingan pembelajaran peserta didik. Beberapa contoh media TIK yang mulai banyak tersedia di pasaran adalah CD/kaset audio, VCD, dan internet. Sehubungan dengan semakin maraknya ketersediaan media TIK untuk kegiatan pembelajaran, baik di pasaran, yang diadakan sekolah sendiri maupun yang diterima sekolah dari berbagai pihak, maka sebelum memanfaatkannya di dalam kelas, beberapa tips berikut ini perlu kiranya mendapatkan perhatian:

1. Mempelajari materi pelajaran yang dikemas di dalam media TIK

Dengan kemajuan TIK dewasa ini, para guru dapat mencatat daftar websites yang memang memuat materi pelajaran yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan dibahas di dalam kelas. Tidak hanya mencatat website-nya tetapi juga materi pelajaran yang dikandung di dalamnya. Penugasan peserta didik mengakses websites tertentu hendaknya dilakukan guru secara terencana. Demikian juga dengan alokasi waktu bagi peserta didik untuk mengerjakan tugas yang diberikan.

Manakala di sekolah telah tersedia perangkat komputer dan akses ke internet, maka guru dapat menugaskan para peserta didiknya untuk mengunjungi websites yang dimaksudkan. Tidak hanya sekedar mengunjungi websites tertentu saja, tetapi para peserta didik juga ditugaskan untuk mendiskusikan materi pelajaran yang dikemas di dalamnya.

Mengakses websites tertentu yang ditugaskan guru dapat saja dilakukan peserta didik di luar jam pelajaran sekolah atau selama peserta didik masih berada di sekolah. Apabila selama berada di lingkungan sekolah, peserta didik dapat saja mengakses websites yang ditugaskan guru di lab komputer. Peserta didik akan merasa lebih leluasa melaksanakan tugas yang diberikan guru apabila ada jam pelajaran kosong. Atau, setidak-tidaknya ada satu jam pelajaran yang diperuntukkan guru kepada peserta didik untuk mengakses websites dan mendiskusikan materinya. Tentunya akan lebih baik lagi apabila peserta didik melaksanakan tugas di luar jam pelajaran sekolah.

2. Merencanakan waktu pemanfaatan media TIK

Ada sebagian guru yang membawa media TIK atau media pembelajaran ke dalam kelas dan kemudian memanfaatkannya ketika dirinya merasa memerlukannya. Artinya, pemanfaatan media pembelajaran dilakukan sesuai dengan keinginannya. Bahkan, lebih ekstrim lagi, ada guru yang menugaskan para peserta didiknya untuk memanfaatkan media pembelajaran karena dirinya berhalangan hadir mengajar di kelas. Media pembelajaran mana yang akan dimanfaatkan peserta didik sewaktu guru berhalangan mengajar tidak ditentukan alias diserahkan sepenuhnya kepada peserta didik. Demikian juga dengan petunjuk atau pedoman yang perlu diperhatikan atau dilaksanakan oleh peserta didik selama memanfaatkan media pembelajaran.

Berdasarkan keadaan tersebut di atas, dapatlah dikatakan secara singkat bahwa pada dasarnya guru tidak melakukan perencanaan tentang pemanfaatan media yang tersedia di sekolahnya. Padahal pemanfaatan media pembelajaran yang tersedia di sekolah tentunya merupakan sesuatu yang seyogianya dilakukan guru. Masih relatif akan lebih terarah apabila media pembelajaran yang akan dimanfaatkan peserta didik itu telah disiapkan dan kemudian dititipkan kepada guru piket atau Kepala Sekolah. Pendampingan peserta didik dalam pemanfaatan media di sini tentu saja dapat dilakukan oleh guru piket, tenaga Tata Usaha atau Kepala Sekolah.

Bagaimana seandainya guru tidak berhalangan hadir mengajar di kelas? Apakah guru juga masih akan memanfaatkan media dalam kegiatan pembelajaran sekali pun seandainya dirinya tidak berhalangan hadir mengajar di kelas? Hendaknya pemanfaatan media dalam kegiatan pembelajaran dilakukan secara terencana dan terintegrasi dalam jadwal pelajaran sekolah.

Sebagai contoh adalah guru yang akan memanfaatkan media CD atau VCD dalam kegiatan pembelajaran. Setelah mempelajari materi yang dikandung di dalam CD/VCD, maka guru tahu persis kapan materi tersebut akan dibahas bersama peserta didiknya. Dalam kaitan ini, guru tentunya dituntut untuk membuat perencanaan pemanfaatannya. Berbagai topik program media yang terdapat di dalam media CD/VCD telah terlebih dahulu dipelajari guru sehingga dapat diintegrasikan dengan jadwal pelajaran sekolah, baik mengenai harinya maupun waktunya. Dengan adanya perencanaan ini, maka peserta didik dapat dikondisikan agar peserta didik mempersiapkan dirinya dan fasilitas yang mereka perlukan sebelum kegiatan pemanfaatan media dilakukan. Demikian juga halnya dengan kesiapan guru itu sendiri, baik dalam mempelajari materi pelajaran yang dikemas di dalam media CD atau VCD maupun dalam mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan guru.

3. Mengkomunikasikan rencana pemanfaatan media TIK kepada peserta didik

Setidak-tidaknya ada 2 alasan mengapa dinilai penting mengkomunikasikan rencana pemanfaatan media TIK kepada peserta didik adalah agar peserta didik dapat mempersiapkan (a) dirinya untuk mempelajari materi pelajaran yang akan disajikan melalui media TIK dan (b) fasilitas yang diperlukan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran melalui media TIK. Dari sisi guru sendiri, ada tuntutan agar guru lebih (a) mempersiapkan dirinya mengenai materi pelajaran yang akan dibahas, (b) mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan (dalam kondisi baik) agar tidak menjadi hambatan sewaktu pemanfaatan media TIK dilaksanakan, dan (c) mempersiapkan ruangan yang akan menjadi tempat pemanfaatan media TIK.

Apabila memungkinkan, rencana pemanfaatan media TIK dalam kegiatan pembelajaran dapat ditempelkan di pintu masuk ruang kelas atau di ruang lain yang telah diperuntukkan sebagai tempat pemanfaatan media TIK. Atau bahkan sehari sebelum pemanfaatan media TIK, guru kembali mengingatkan peserta didiknya mengenai kegiatan pembelajaran esok yang memanfaatkan media TIK. Akan semakin lebih baik lagi guru juga menjelaskan topik dan pokok-pokok materi pelajaran yang akan dibahas serta kompetensi yang perlu dikuasai peserta didik.

4. Mengkomunikasikan rencana pemanfaatan media TIK kepada pengelola fasilitas TIK sekolah

Tidak adanya komunikasi tentang rencana pemanfaatan media TIK kepada pengelola fasilitas TIK dapat mengakibatkan terganggunya pelaksanaan pemanfaatan media TIK atau lebih fatal lagi adalah tertundanya rencana pelaksanaan pemanfaatan media TIK untuk kepentingan pembelajaran. Tentunya akan berbeda kondisinya apabila sang guru adalah juga pengelola fasilitas TIK. Komunikasi dengan pengelola fasilitas TIK ini akan menuntut aktivitas pengelola untuk memeriksa berbagai fasilitas TIK yang dibutuhkan guru sehingga pada saat pelaksanaan pemanfaatan, semua fasilitas TIK yang dibutuhkan guru dalam keadaan siap dan baik.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.